Pola Pembelajaran untuk Generasi Z

img

 

SAAT ini kita tidak hanya menghadapi generasi rebahan, tetapi kita bersiap-siap menghadapi peserta didik yang berasal dari generasi Z, generasi alfa, dan generasi beta.

Tentu saja secara karakter  mereka sangat berbeda jauh dibanding generasi X dan generasi milenial. Kita tahu bahwa dalam teori teknologi pendidikan bahwa pusat dari pendidikan adalah peserta didik. Hukumnya wajib bagi kita mengetahui karakteristik peserta didik kita.

Komunikasi yang baik itu adalah jika kita menggunakan frekuensi dari mereka. Seorang guru tugasnya sederhana yakni mengetahui caranya membuat peserta didik kita melakukan hal-hal yang kita inginkan. Kita ingin mereka ketagihan belajar. Guru kalau sudah membuat peserta didiknya ketagihan belajar itu tugasnya sudah selesai 70 persen.

Untuk membuat itu, maka kita harus melakukan pendekatan, komunikasi, metode yang efektif sesuai dengan perilaku dari generasi Z. Mereka ini adalah generasi yang lahir antara tahun 1995 – 2011. Jadi kalau mereka lahir tahun 2011 berarti sekarang sudah 9 tahun dan sudah duduk di bangku SD.

Mereka memiliki tipe sangat individualis dan mengharapkan orang tuanya hanya sebagai penasehat saja. Mereka sangat dependen, sangat mandiri apalagi dalam penggunaan teknologi. Mereka ini orangnya multitasking, dapat melakukan sesuatu secara bersamaan, belajar sambil nonton film, sambil teleconference, sambil ngemil, dan lain-lain. Itu merupakan hal yang biasa bagi mereka karena waktu lahir mereka melihat teknologi dulu baru melihat sekolah, mall, bank, taksi, dan lain-lain. Jadi bagi anak-anak sekarang itu handphone, game, whatsapp, email, zoom, teleconference bagi mereka itu bukan teknologi karena waktu mereka lahir semua itu sudah ada. Jadi kita harus paham secara psikologis hal-hal yang ada di kepala mereka.

Di sinilah maka menteri pendidikan mengatakan bahwa kita harus berubah cara mengajarnya. Pendekatannya dari content base education menjadi outcome base education. Kalau zaman dulu masih content base education karena tidak ada internet, buku-buku yang dipakai tidak banyak,  artinya seorang guru harus mentransfer ilmunya, buku-buku yang dimiliki, kepintaran yang ada di kepalanya kepada siswa. Kalau sekarang kita mengajar semuanya sudah ada di internet. Jadi tugas kita adalah membuat anak- anak kita memiliki kompetensi.

Kalau content base education itu cara mengujinya menggunakan pertanyaan “siswa tahu apa?” tapi kalau outcome base education cara mengujinya menggunakan pertanyaan “siswa bisa apa?”.  Tahu mengenai sesuatu belum tentu bisa melakukannya, tapi kalau bisa melakukannya itu karena pasti dia memiliki pengetahuan. Jadi tugas kita sekarang lebih berat sebagai pendidik yaitu membuat siswa kita bisa melakukan sesuatu. Tugas kita sekarang adalah bukan lagi mengajar tapi kita harus membuat peserta didik kita mampu melakukan sesuatu atau berbuat sesuatu atau yang dikatakan sebagai kompetensi yang merupakan inti dari outcome base education.

Guru biasanya disibukkan dengan administrasi. Mengajar dari tahun ke tahun itu-itu saja, sementara siswa mendapat hal-hal mutakhhir melalui youtube. Ada saja orang menulis hal-hal yang paling baru. Ibaratnya, kita baru mengajar versi 1, di youtube sudah mengenalkan versi 3.

Namun, bukan berarti guru tidak dibutuhkan lagi, tetapi sekarang kita memiliki tantangan. Tantangan kita adalah seberapa penting peran guru pada saat semua bahan tersedia di internet dan anak-anak lebih menyukai belajar di internet daripada belajar dengan guru. Peran guru saat ini tidak hanya pengajar atau fasilitator, namun menjadi arsitek proses pembangunan. Dalam arti, sumber belajar bukan guru satu-satunya tetapi siapa pun bisa jadi sumber belajar asalkan didesain oleh guru yang bersangkutan.

Generasi Z tidak suka bacaan penuh, mereka hanya mengambil intinya saja. Mereka lebih senang berbicara dengan gambar atau emoji dan mereka lebih senang nonton youtube daripada nonton televisi. Pertemanan anak-anak sekarang mencakup seluruh dunia. Mereka berteman menggunakan medsosnya. Kemampuan bahasa inggris anak-anak sekarang juga sangat bagus meskipun mereka tidak les bahasa inggris.

Mereka sangat mandiri, mereka ini para social enterpreneur. Mereka ini senang membuat sesuatu yang baru dan lebih cepat bosan. Satu lagi ciri khas mereka adalah ahli forensik. Kita harus penuh dengan kejutan kalau mengajar anak-anak generasi Z. Bukan artinya kita melawan Standar Operasional Pelayanan (SOP) atau melawan rencana pembalajaran. Mereka harus diberikan kejutan-kejutan yang mereka tidak prediksi.

Oleh karena itu, kita harus berselancar di atas perilaku mereka. Di sinilah kita mengajarkan anak-anak untuk berpendapat. kita mengajarkan anak-anak memyampaikan sesuatu yang ada di pikirannya.

Generasi Z ini cara belajarnya kebanyakan melalui grafik, gambar, fenomena, video. Tugas kita sederhana yakni mengarahkan dan memastikan bahwa yang mereka pelajari benar dan sesuai dengan bakat mereka. Generasi Z lebih senang diberi tantangan daripada diberi tahu. Mereka senang kalau diberi eksperimen aktif. Mereka senang melakukan sesuatu kalau itu ada gunanya dalam kehidupan sehari-hari atau ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Apapun jawaban dari meraka, kita beri feedback agar mereka tetap bersemangat.

Kalau peserta didik adalah pusat dari pendidikan dan karakteristik mereka adalah berbeda dengan kita, maka kita harus tahu persis cara meng-handle mereka. Mereka adalah orang-orang yang pintar, orang-orang yang hebat sehingga kita tinggal cari celahnya, maka kita akan mendapatkan anak-anak yang luar biasa. (Penulis: Sutiwi, S.Pd.,Guru SMPN 31 Samarinda)